Pengertian Risiko dan Tingkat Pengembalian
Sekarang ini dalam investasi baik invidu maupun bisnis berinvestasi menghabiskan uang untuk mendapatkan uang yang lebih banyak. Tingkat nilai pengembalian dalam investasi dapat dilihat dari kinerja keuangan dari uang yang diinvestasikan tersebut.
Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih luas, risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau berlawanan dari yang diinginkan. Dalam industri keuangan pada umumnya, terdapat suatu jargon “high risk bring about high return”, artinya jika ingin memperoleh hasil yang lebih besar, akan dihadapkan pada risiko yang lebih besar pula.
Risk and return adalah kondisi yang dialami oleh perusahaan, institusi, dan individu dalam keputusan investasi yaitu, baik kerugian maupun keuntungan dalam suatu periode akuntansi. Hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian adalah:
1. bersifat linear atau searah.
2. Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi pula risiko.
3. Semakin besar asset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi maka semakin besar pula risiko yang timbul dari investasi tersebut.
4. Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal.
Jika Anda berinvestasi dalam saham spekulatif (atau saham apapun), Anda mengambil risiko dengan harapan memperoleh suatu pengembalian yang besar. Risiko suatu aset dapat dianalisis dengan dua cara:
1) Secara berdiri sendiri (stand- alone), di mana aset tersebut dianggap terpisah.
2) Berdasarkan jumlah portofolio, di mana aset tersebut dianggap sebagai salah satu dari sejumlah aset dalam portofolio.
Jadi aset stand alone-risk adalah risiko investor yang akan dihadapi jika seorang investor hanya mengadakan satu aset. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar aset diadakan di portofolio, tetapi perlu dipahami stand-alone risk berguna untuk memahami risiko dalam konteks portofolio. Tidak ada investasi yang harus dilakukan kecuali tingkat pengembalian yang diharapkan cukup tinggi untuk mengkompensasi para investor untuk risiko yang diperoleh dari investasi. Misalnya, dapat dipastikan bahwa beberapa investor akan bersedia untuk membeli saham perusahaan minyak jika pengembalian yang diharapkan lebih besar.
Pada umumnya, aset berisiko (risky assets) jarang menghasilkan tingkat pengembalian yang diharapkan para investor, aset berisiko mendapatkan lebih baik atau kurang dari yang awalnya diharapkan. Memang, jika aset selalu menghasilkan pengembalian yang diharapkan para investor, maka tidak akan berisiko. Risiko investasi berkaitan dengan probabilitas yang berproduktif rendah atau pengembalian yang negatif, sangat besar mempunyai peluang pengembalian yang rendah atau negatif, yang berisiko investasi.
Hubungan Karakteristik Risk and Return
Semakin besar probabilitas berarti pengembalian aktual akan jauh di bawah
pengembalian yang diharapkan dan semakin besar stand-alone risk yang terkait dengan aset. The average investorsadalah orang yang menolak risiko, yang berarti bahwa investor tersebut harus dikompensasi utuk melakukan aset yang berisiko. Oleh karena itu, aset yang berisiko lebih tinggi memiliki return yang dibutuhkan daripada aset yang kurang berisiko. Aset yang berisiko terdiri dari (1) diversiable risk, yang mana risiko dapat dihilangkan melalui diversifikasi, kemudian (2) market risk, yang mana risiko tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi.
pengembalian yang diharapkan dan semakin besar stand-alone risk yang terkait dengan aset. The average investorsadalah orang yang menolak risiko, yang berarti bahwa investor tersebut harus dikompensasi utuk melakukan aset yang berisiko. Oleh karena itu, aset yang berisiko lebih tinggi memiliki return yang dibutuhkan daripada aset yang kurang berisiko. Aset yang berisiko terdiri dari (1) diversiable risk, yang mana risiko dapat dihilangkan melalui diversifikasi, kemudian (2) market risk, yang mana risiko tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi.
Risiko yang berhubungan dengan aset individu adalah kontribusi risiko portofolio yang terdiversifikasi dengan baik yang merupakan aset market risk (risiko pasar). Karena market risk tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi, para investor harus dikompensasi untuk menahan risiko tersebut.
Menurut Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld bahwa pada kenyataanya, seorang investor yang netral terhadap risiko cenderung mengambil posisi agresif maksimum. Ia akan membeli sebanyak mungkin aset yang menjanjikan hasil tinggi dan menjual sebanyak mungkin aset yang hasilnya lebih rendah. Perilaku inilah yang menciptakan kondisi suku bunga. Adapun karakteristik tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Takut pada risiko (Risk Avoider)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati terhadap keputusan yang diambilnya bahkan ia cenderung begitu tinggi melakukan tindakan yang sifatnya mengindari risiko yang akan timbul jika keputusan diaplikasikan. Karakter pebisnis yang melakukan tindakan seperti ini disebut dengan safety player.
2. Hati-hati pada risiko (Risk Indifference)
Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati atau begitu menghitung terhadap segala dampak yang akan terjadi jika keputusan diaplikasikan. Bagi kalangan bisnis, mereka menyebut orang dengan karakter seperti ini secara ekstrem disebut sebagai tipe peragu.
3. Suka pada risiko (Risk Seeker atau Risk Lover)
Karakteristik ini adalah tipe yang begitu suka pada risiko. Mereka terbiasa dengan spekulasi dan itu pula yang membuat penganut karakteristik ini selalu saja ingin menjadi pemimpin dan cenderung tidak ingin menjadi pekerja. Mental risk seeker adalah mental yang dimiliki oleh pebisnis besar dan juga pemimpin besar. Karakter ini yang paling mendominasi jika dilihat dari kedekatannya pada risiko.
Tipe-tipe Risiko
Ø Pure Risk (Risiko Murni): suatu ketidakpastian terjadi, maka kejadian tersebut pasti menimbulkan kerugian. Risiko murni dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe risiko, yaitu:
1. Risiko aset fisik: risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu perusahaan/organisasi. Contoh: kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.
2. Risiko Karyawan: risiko yang disebabkan karena apa yang dialami oleh karyawan yang bekerja di suatu perusahaan atau organisasi. Contoh : kecelakaan kerja yang menyebabkan terganggunya aktivitas perusahaan.
3. Risiko Legal: risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau kontrak tidak berjalan sesuai dengan rencana. Contoh : perselisihan dengan perusahaan lain sehingga adanya persoalan seperti penggantian kerugian.
Ø Speculative Risk (Risiko Spekulatif): suatu ketidakpastian akan terjadinya untung atau rugi. Risiko ini dapat dikelompokkan menjadi 4 tipe yaitu:
1. Risiko Pasar: risiko yang terjadi dari pergerakan harga pasar. Contoh: harga saham mengalami penurunan sehingga menimbulkan kerugian.
2. Risiko kredit: risiko yang terjadi karena counter party gagal memenuhi kewajibannya kepada perusahaan. Contoh : timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.
3. Risiko likuiditas: risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kas. Contoh: kepemilikan kas menurun, sehingga tidak mampu membayar hutang secara tepat, menyebabkan perusahaan harus menjual aset yang dimilikinya.
4. Risiko operasional: risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional yang tidak berjalan lancar. Contoh: terjadi kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena virus.
Ø Static Risk (Risiko Statis) : mungkin sifatnya murni atau spekulatif asalnya dari masyarakat yang tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil. Contoh : ketidakpastian terjadinya sambaran petir.
Ø Dynamic Risk (Risiko Dinamis) : mungkin sifatnya murni atau spekulatif timbul dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Contoh : urbanisasi, perkembangan teknologi.
Ø Subjective Risk (Risiko Subyektif) : berkaitan dengan kondisi mental seseorang yang mengalami keragu-raguan dan kecemasan akan terjadinya kejadian tertentu.
Ø Objective Risk (Risiko Obyektif) : probabilitas penyimpangan aktual dari yang diharapkan sesuai dengan pengalaman.
Risiko Dalam Konteks Portofolio
Menurut sudut pandang investor, adanya fakta bahwa suatu saham tertentu akan naik atau turun bukanlah hal yang sangat penting; yang penting adalah tingkat pengembalian dari portofolionya, dan portofolio tersebut. Kumpulan dari portofolio yang layak mewakili semua portofolio yan dapat dihasilkan dari kumpulan aset yang diberikan. Portofolio yang efisien adalah portofolio yang menawarkan banyak pengembalian dari sejumlah risiko yang diberikan atau paling tidak risiko dari sejumlah pengembalian. Portofolio yang optimal untuk investor adalah portofolio yang dianggap yang memiliki kemungkinan tertinggi pada kurva indeferen yang bersinggungan dengan kumpulan portofolio yang efisien.
Logikanya, risiko dan tingkat pengembalian dari masing-masing sekuritas harus dianalisis dari segi bagaimana sekuritas tersebut mempengaruhi dan tingkat pengembalian portofolio di mana sekuritas dimiliki.
· Pengembalian portofolio
Tingkat pengembalian portofolio yang diharapkan (expected return on a portfolio), kp sederhananya adalah rata-rata tertimbang dari tingkat pengembalian yang diharapkan dari masing-masing aktiva di dalam portofolio, dengan bobotnya adalah pecahan dari total portofolio yang diinvestasikan di setiap aktiva:
Kp = w1k1 + w2k2 + ........ + wnkn
Ket : ki = tingkat pengembalian yang di harapkan dari masing-masing saham
wi = bobot
n = jumlah saham
Portofolio
Ekspektasi tingkat pengembalian dari suatu portofolio sebenarnya hanyalah rata-rata tertimbang dari ekspektasi tingkat pengambalian individual aktiva di dalam portofolio. Akan tetapi, tidak seperti pengambalian, tingkat dari suatu portofolio, p , biasanya bukanlah merupakan rata-rata tertimbang dari deviasi standar masing-masing aktiva di dalam portofolio; risiko portofolio akan lebih kecil dari rata-rata tertimbang aktiva-aktivanya. Bahkan kenyataannya, secara teori dimungkinkan untuk menggabungkan saham-saham yang secara individual cukup be jika dilihat dari deviasi standarnya dan membuat sebuah portofolio yang sepenuhnya tanpa , dengan p=0
Diversifikasikan versus Pasar.
Diversifiable risk disebabkan oleh peristiwa-pristiwa acak seperti tuntutan hukum, pemogokan, program pemasaran yang berhasil dan gagal, memenangkan atau kalah dalam kontrak besar dan peristiwa-peristiwa lainnya yang khusus bagi suatu perusahaan tertentu. Karena bersifat acak pengaruh berbagai peristiwa ini pada suatu portofolio dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi. Peristiwa merugikan yang terjadi pada satu perusahaan akan dihilangkan oleh peristiwa menguntungkan di perusahaan lain.
Ë Pasar (market risk) dilain pihak tumbuh dari faktor-faktor yang secara sistematis akan mempengaruhi sebagian besar perusahaan; perang, inflasi, resesi, dan tingkat suku bunga yang tinggi. Karena kebanyakan saham akan dipengaruhi secara negatif oleh faktor-faktor ini, pasar tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi.
Investor menginginkan premi karena menanggung, jadi semakin tinggi tingkat sebuah sekuritas semakin tinggi ekspektasi tingkat pengembalian yang harus diberikan untung merangsang investor membeli (memiliki) sekuritas tersebut. Dengan hal itu tiap investor ingin mengetahui tingkat dari setiap saham, tingkat dari setiap saham dapat diukur melaui model penetapan aktiva modal (capital asset pricing model-CAPM), sebuah alat penting yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara dan tingkat pengembalian. Kesimpulan utama dari CAPM adalah tingkat dari suatu saham secara relevan adalah kontribusi yang diberikannya kepada tingkat dari portofolio yang terdiversifikai dengan baik. Saham-saham yang berbeda akan mempengaruhi portofolio dengan cara yang berbeda pula, sehingga sekuritas yang berbeda akan memiliki derajat relevan yang berbeda. Seluruh kecuali yang behubungan dengan pergerakan pasar secara luas dapat dan mungkin dihilangkan melalui diversifikasi. yang masih tersisa setelah mendiversifikasikan pasarnya, atau yang inheren di dalam pasar, dan dapat diukur melalui seberapa besar sebuah saham tertentu cenderung akan bergerak naik atau turun mengikuti pasar.
Konsep Beta
Kecenderungan sebuah saham bergerak naik dan turun mengikuti pasar akan tercermin dalam koefisien betanya (beta coefficient), b. Beta adalah elemen kunci dari CAPM. Sebuah saham dengan rata-rata dinyatakan sebagai saham yang cenderung bergerak naik dan turun sesuai dengan pasar umum yang diukur dengan suatu indeks tertentu. Saham dari koefisien beta, b, adalah ukuran/nilai dari market risk. Pengukuran Beta menunjukkan sejauh mana pengembalian saham bergerak relatif terhadap pasar. Beta dari sebuah saham yang lebih tinggi lebih stabil daripada saham rata-rata, sedangkan Beta dari sebuah saham yang rendam kurang stabil daripada saham rata-rata. Saham rata-rata memiliki b = 1.0. Beta pada portofolio adalah rata-rata tertimbang dari beta pada sekuritas individu dalam portofolio
Teorinya, sebuah saham bisa saja memiliki beta negatif. Dalam keadaan ini, pengembalian saham akan cenderung meningkat ketika pengembalian dari saham-saham lain turun. Namun, ingatlah bahwa sebuah saham dalam suatu tahun tertentu dapat bergerak berlawanan dengan pasar secara keseluruhan, meskipun beta dari saham tersebut memiliki nilai positif. Jika sebuah saham memiliki beta positif, kita akan memiliki ekspektasi bahwa tingkat pengembaliannya akan anaik ketika bursa saham secara keseluruhan mengalami peningkatan. Meskipun begitu, faktor-faktor yang spesifik dari setiap perusahaan dapat menyebabkan tingkat pengembalian saham yang diterima menurun, walaupun pengembalian pasar memiliki nilai positif.
Perhitungan Return
1. Perhitungan Expected Return Pada Suatu Sekuritas
Untuk menghitung return yang diharapkan dari suatu sekuritas yang harus dipahami oleh seorang investor adalah dengan memahami probabilitas dari kejadian yang akan terjadi.
Keterangan:
E (R) = Expected Return atau return yang diharapkan dari suatu sekuritas
Ri = Return ke-i yang mungkin terjadi
Pri = Probabilitas kejadian return ke-i
n = banyaknya return yang mungkin terjadi
2. Perhitungan Expected Return Pada Portofolio
Maka kita dapat menggunakan rumus:
E (RP) =X A.E (RA) + X B.E (RB)
Keterangan:
E (RP) = Expected return portofolio
E (RA) = Expected return saham A
E (RB) = Expected return saham B
XA = Uang yang diinvestasikan pada saham A
XB = Uang yang diinvestasikan pada saham B
3. Menghitung Expected Return Dari Saham
Keterangan:
r = keuntungan yang diharapkan dari saham
D1 = Dividen tahun 1
PO = harga beli
P1 = harga jual
Model Yang Digunakan Dalam Risiko dan Tingkat pengembalian
1. CAPM (Capital Asset Pricing Model)
CAPM atau model penentuan harga aset modal adalah model penetapan harga aktiva equilibrium yang menyatakan bahwa expected return atas sekuritas tertentu adalah fungsi linier positif dari sensitifitas sekuritas terhadap perubahan return portofolio.
CAPM menjelaskan hubungan antara return dengan beta (β). Beta menunjukkan hubungan (gerakan) antara saham dan pasarnya (saham secara keseluruhan)[1][1]. Besarnya risiko perusahaan ditentukan oleh beta.
β>1 menunjukkan harga saham perusahaan lebih mudah berubah dibandingkan indeks pasar. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi saham menjadi lebih berisiko, artinya jika saat terjadi perubahan pasar 1% maka pada saham X akan mengalami perubahan lebih besar dari 1%.
β<1 menunjukkan tidak terjadinya kondisi yang mudah berubah berdasarkan kondisi pasar.
β=1 menunjukkan bahwa kondisinya sama dengan indeks pasar.
Rumus CAPM yaitu:
Ri= Rf +βi (Rm-Rf), atau
Ri= Rf +(Rm-Rf)βi , atau
Ri= (1-βi )Rf + βi .R
Keterangan:
Ri = Return saham i
Rf = Return investasi bebas risiko (Risk Free)
βi = Beta saham i (indikator risiko sistematis)
Rm = Return pasar (return market)
2. APT ( Arbitrage Pricing Theory)
APT merupakan teori yang dikembangkan oleh Stephen A. Ross pada tahun 1976 dimana beliau menyatakan bahwa harga suatu aktiva bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Rumusnya:
Ri = αi + βi Rm + ei
Keterangan:
Ri = Return saham i
αi = Alpha saham i
βi = beta saham i
Rm = Return pasar
ei = random error
Perhitungan Risiko
Sekedar informasi bahwa risiko yang terkecil itu adalah obligasi (bond) yang dijual oleh pemerintah. Sedangkan risiko yang tertinggi adalah saham yang dijual oleh perusahaan. Ada model perhitungan risiko yang paling sering dipergunakan khususnya dalam investasi, yaitu secara standar deviasi dan varians. Untuk melengkapi perhitungan ini agar lebih komprehensif, terutama jika timbul suatu persoalan seperti penyebaran return yang diharapkan sangat besar, maka dipergunakan perhitungan tambahan dengan menggunakan coefficient of variation atau risiko relatif.
ü Standar deviasi atau simpangan baku adalah suatu estimasi probabilitas perbedaan return nyata dari return yang diharapkan.
ü Varian (nilai kuadrat dari standar deviasi) adalah :
® Dalam statistik, varian adalah ukuran penyerapan dari penyebaran probabilitas. Hal ini merupakan pangkat dua deviasi standar. Misalnya, bila standar deviasinya 20, maka variannya adalah 400.
® Selisih pendapatan, biaya, dan keuntungan terhadap jumlah yang direncanakan. Varian dihitung pada pusat pertanggungjawaban, penganalisisan. Dan varian yang tidak menguntungkan, diselidiki untuk mencari kemungkinan perbaikan.
The Capital Market Line (CML) menjelaskan hubungan risk atau return pada portofolio yang efisien, yaitu pada portofolio yang terdiri dari gabungan market portfolio dan aset tanpa risiko. The Security Market Line (SML) adalah bagian integral dari CAPM dan menjelaskan hubungan risk atau return pada aset individu. Tingkat yang dibutuhkan dari pengembalian saham apa pun (J) adalah sama dengan risk-free rate (tingkat bebas risiko) ditambah dengan market risk premium (premi risiko pasar) dikalikan dengan saham koefisien beta.
Saham pada koefisien beta, adalah ukuran/nilai dari saham market risk. Pengukuran Beta yang berubah-ubah pada pengembalian sekuritas berhubungan dengan pengembalian pada market (pasar) yang merupakan portofolio dari semua aset berisiko. Koefisien beta diukur oleh kemiringan characteristic line (garis karakteristik) saham, yang didapatkan dari pengembalian regressing historical pada saham dibandingkan dengan pengembalian historical padamarket.
Meskipun CAPM menyediakan batasan yang sesuai tentang risk dan return, hal tesebut tidak dapat terbukti secara empiris dan parameternya sangat sulit untuk diestimasi. Jadi, tingkat pengembalian yang dibutuhkan untuk saham yang diestimasi oleh CAPM mungkin tidak persis sama dengan tingkat pengembalian yang dibutuhkan sebenarnya. Kekurangan pada CAPM memberikan alasan teori untuk mencari risk atau return model ekuilibrium yang lain, dan Arbitrage Pricing Theory (APT) adalah salah satu model penting yang terbaru. The Fama-French three-factor model memiliki faktor pertama untuk market return (pengembalian pasar), faktor kedua untuk size effect (efek ukuran), dan faktor ketiga untuk efek book-to-market. Behavioral finance (perilaku keuangan) mengasumsikan bahwa investor tidak selalu berperilaku rasional.
Saham menurut Darmadji dan Fakhruddin (2001) merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Sedangkan Riyanto (2002) mendefinisikan saham sebagai tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu perusahaan terbatas (PT) bagi suatu perusahaan yang bersangkutan, yang diterima dari hasil penjualan sahamnya akan tetap tertanam di dalam perusahaan tersebut selama hidupnya.
Penerbitan saham hanya dapat dikeluarkan oleh suatu badan usaha yang berbentuk perseroan terbatas atau bentuk-bentuk perusahaan lain yang modalnya terdiri dari saham-saham. Pada pasar modal, saham merupakan obyek investasi yang paling utama, karena memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan investasi di bank misalnya dalam bentuk tabungan, giro dan sebagainya.
Tujuan investor melakukan investasi adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang, mengurangi tekanan inflasi, dan dorongan untuk menghemat pajak (Ahmad 2003; Subroto, 2005). Keuntungan yang diperoleh dalam investasi saham bisa dalam bentuk:
1. Dividen
Dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Pemodal baru bisa memperoleh dividen, jika memiliki saham perusahaan tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama sesuai dengan ketemtuan untuk mendapatkan dividen. Dividen adalah salah satu daya tarik bagi pemegang saham dengan orientasi jangka panjang.
2. Capital Gain
Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Umumya pemodal dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan melaluicapital gain (Darmadji dan Fakhruddin, 2002; Subroto, 2005).
Selain dividen dan capital gain, manfaat kepemilikan saham menurut Anoraga dan Pakarti (2001) adanya manfaat nonfinancial, yaitu timbulnya kebanggaan dan kekuasaan memperoleh hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan. Sedangkan proses keputusan investasi merupakan proses yang berkesinambungan (on going process). Proses keputusan investasi terdiri dari enam tahap keputusan yang berjalan terus menerus sampai tercapai keputusan investasi yang tepat. Tahap-tahap keputusan investasi menurut Halim (2003:2) meliputi:
1. Penentuan Tujuan Investasi
Tujuan investasi harus dinyatakan baik dalam keuntungan maupun resiko, sehingga preferensi rasio perlu dipertimbangkan dalam proses investasi.
2. Penentuan Kebijakan Investasi
Merupakan tahap penentuan kebijakan untuk memenuhi tujuan investasi yang telah ditetapkan. Tahap ini dimulai dengan penentuan keputusan alokasi aset. Keputusan ini menyangkut pendistribusian dana yang dimiliki dan porsi pendistribusian dana tersebut serta beban pajak dan pelaporan yang harus ditanggung.
3. Melakukan Analisis
Investor melakukan analisis terhadap suatu efek atau sekelompok efek. Salah satu tujuan penilaian ini adalah untuk mengidentifikasi efek yang salah harga (mispriced), apakah harganya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan yaitu pendekatan fundamental dan pendekatan teknikal.
4. Pemilihan Strategi Portofolio
Pemilihan strategi portofolio harus konsisten dengan dua tahap sebelumnya. Dua tahap strategi portofolio yang dapat dipilih, yaitu. strategi portofolio aktif dan strategi portofolio pasif. Strategi portofolio aktif meliputi kegiatan pengguinaan investasi yang tersedia dan teknik-teknik peramalan secara aktif untuk mencari kombinasi portofolio yang terbaik. Strategi portofolio pasif meliputi aktifitas investasi pada portofolio yang seiring dengan kinerja indeks pasar. Asumsi strategi pasif ini adalah semua investasi yang tersedia akan diserap pasar dan direfleksikan pada harga saham.
5. Pemilihan Aset
Tahap ini memerlukan pengevaluasian setiap sekuritas yang ingin dimasukkan dalam portofolio. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kombinasi portofolio yang efisien, yaitu portofolio yang menawarkan return diharapkan yang lebih tinggi dengan tingkat resiko tertentu, atau sebaliknya menawarkan return diharapkan tertentu dengan tingkat resiko yang rendah.
6. Pengukuran evaluasi kinerja portofolio
Pada tahapan ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portofolio baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun resiko yang ditanggung. Tahap ini adalah tahap paling akhir dari proses keputusan investasi. Jika tahap ini telah dilewati dan ternyata hasilnya kurang baik, maka proses keputusan investasi harus dimulai lagi dari awal, demikian seterusnya sampai dicapai keputusan investasi yang paling optimal.
A
kan tetapi investasi dalam bentuk saham mengandung risiko. Risikonya antara lain adalah harga saham bisa naik tapi bisa juga turun bahkan bisa pula menjadi barang yang tidak ada harganya sama sekali apabila perusahaan emiten itu ternyata kemudian bangkrut. Subroto (2005) mengemukakan risiko investasi dalam saham antara lain:
1. Resiko Financial
Resiko yang diderita oleh pemodal sebagai akibat dari ketidakmampuan emiten dalam memenuhi kewajiban pembayaran deviden.
2. Resiko Pasar
Resiko akibat menurunnya harga pasar saham secara keseluruhan maupun saham tertentu akibat perubahan inflasi, tingkat bunga, kebijaksanaan pemerintah maupun manajemen perusahaan.
3. Resiko Psikologis
Resiko bagi investor yang bertindak secara emosional dalam menghadapi prubahan-perubahan pasar. Investor menanggapi perubahan harga pasar saham berdasarkan optimisme atau pesimisme yang dapat mengakibatkan kenaikan atau penurunan harga saham.
Model Penilaian Saham
Penilaian saham bertujuan sebagai alat untuk memberikan gambaran yang sebenarnya tentang kewajaran atas harga saham yang dinilai sehingga dapat membantu dalam keputusan untuk membeli atau menjual saham, menilai persentase kekuatan dari saham dalam kepemilikan terhadap perusahaan dan memperhitungkan tingkat resiko dan keuntungan (risk and return) atas saham yang dimiliki sehingga mempermudah dalam keputusan untuk membeli atau menjual saham.
Sjahrizal (2000) mengemukakan proses penilaian harga saham meliputi kegiatan antara lain:
- Menghimpun data yang berupa
- Laporan keuangan audited untuk tiga tahap terakhir.
- Proyeksi laporan keuangan untuk 5 tahun berikut asumsinya.
- Kontrak-kontrak maupun perjanjian-perjanjian yang akan mempengaruhi keuangan perusahaan.
- Melaksanakan “due diligent meeting” pertemuan antara direksi komisaris dan staf perusahaan dengan paraunderwriter. Pertemuan ini dimaksudkan untuk menimba data atau informasi lain secara langsung dari management
- Melaksanakan kunjungan proyek atau perusahaan. Tahap ini diperlukan untuk memperoleh keyakinan terhadap informasi yang diperoleh secara tertulis
- Menghimpun informasi dari pihak ketiga seperti: bank, relasi usaha (supplier atau buyer), dan lain-lain.
- Dari informasi yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode diperhitungkan harga saham yang disebut di atas, disusun suatu laporan pembahasan dan usulan berharga yang akan digunakan sebagai bahan untuk negosiasi dari emiten.
Analisis Fundamental dengan Menggunakan Net Asset Per Share, Return on Equity dan Earning Per Share (NAPS, ROE dan EPS).
Analisis fundamental dilakukan untuk memperoleh nilai intrinsik (intrinsic value) sekuritas. Nilai intrinsik ini selanjutnya akan dibandingkan dengan nilai pasar saat itu. Apabila ternyata nilai intrinsik sekuritas lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar, maka sekuritas tersebut dapat dikatakan undervalued dan anda bisa memutuskan untuk membelinya. Dari hasil penghitungan nilai intrinsik ini kemudian anda bandingkan dengan harga pasar saat itu. Apabila ternyata hasil perhitungan lebih tinggi, artinya sekuritas yang anda hitung undervalued dan saatnya untuk membeli dengan harapan harga saham tersebut akan meningkat di kemudian hari. Sebaliknya apabila lebih rendah, disebut overvalued dan anda harus menghindari sekuritas jenis ini, dan apabila anda terlanjur memilikinya, saat yang tepat untuk menjualnya (Wisana dan Kirbrandoko, 2009). Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan fundamental lebih menitikberatkan pada tata indikator ekonomi perusahaan.
Tahapan dalam melakukan menganalisis data perusahaan secara fundamental adalah:
- Mengetahui harga saham dari setiap emiten atau perusahaan.
- Mengetahui volume transaksi saham yang dari setiap emiten atau perusahaan.
- Mengetahui jumlah saham yang beredar dari setiap emiten atau perusahaan.
- Mengetahui laporan keuangan, yaitu neraca dan rugi laba dari setiap emiten atau perusahaan (Warta Ekonomi, 2009).
Berdasarkan data tersebut diatas maka analisis fundamental dapat dilakukan dengan menghitung antara lain NAPS, ROE dan EPS untuk menilai saham sebagai dasar keputusan investasi dari investor.
Teknik analisis fundamental yang popular digunakan oleh fundamentalis dalam mengambil keputusan investasi menurut Wisana dan Kirbrandoko (2009) adalah NAPS, ROE dan EPS. Penjelasan dari masing-masing teknik analisis fundamental adalah sebagai berikut:
- Analisis Net Asset Per Share (NAPS), bertujuan untuk mengetahui kekayaan bersih atau asset perusahaan yang terkandung dalam setiap lembar saham.
- Analisis Return on Equity (ROE), yaitu analisis untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba (profitabilitas).
- Analisis Earning Per Share (EPS), bertujuan untuk mengetahui potensi keuangan yang dapat diperoleh setiap lembar saham.
Hubungan Analisis Fundamental NAPS, ROE dan EPS dengan Penilaian Saham
Pendekatan analisis fundamental menitikberatkan pada hubungan harga saham dengan kondisi intern perusahaan seperti laporan keuangan dan pergantian pimpinan perusahaan. Asumsi yang digunakan pendekatan fundamental dalam penentuan harga saham didasarkan adalah saham perusahaan mempunyai nilai instrinsik yang ditentukan oleh unsur-unsur fundamental perusahaan, seperti laba per saham, deviden per saham, tingkat biaya modal, potensi pertumbuhan perusahaan dan lain sebagainya.
Setelah melakukan perhitungan secara keseluruhan dari analisis fundamental yang terdiri dari: NAPS, ROE dan EPS maka dapat diketahui kinerja suatu saham secara fundamental. Hasil analisis fundamental ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur pengambilan keputusan untuk melakukan investasi atau tidak. Akan tetapi analisis fundamental bisa efektif dalam kurun waktu jangka panjang, misalnya dalam tri wulan, per semester dan per tahun.
Comments
Post a Comment